Blekot

Anjingku :)

Advertisements

I LOPH MY FAM' :*

I LOPH MY FAM’ :*

Artikel Tentang Barack Obama



Tidak dapat dipungkiri lagi ketenaran Barack Obama di kalangan dunia Internasional, namun bagi kebanyakan orang Amerika yang tinggal di pelbagai pelosok, Barack Obama ternyata masih dianggap sebagai seseorang yang tidak sepenuhnya orang Amerika-karena namanya yang terdengar asing di telinga mereka. Di tambah karena ketidak-arifan sebagian masyarakat Amerika yang masih menolak orang minoritas (berkulit hitam) untuk memimpin negeri Paman Sam ini.

Sebelum saya menjabarkan butir-butir yang serius, mari menyimak apa yang saya rasa perlu anda ketahui tentang kesamaan saya dengan Barack Obama:

Barack Obama dan Saya pernah tinggal di Jakarta.

Barack Obama dan Saya bisa berbahasa Indonesia.

Barack Obama dan Saya bisa berbahasa Inggris.

Barack Obama dan Saya bekerja untuk institusi yang sama.

Barack Obama dan Saya mepunyai dua anak perempuan.

Barack Obama dan Saya memakai tangan kiri untuk menulis (kidal)

Barack Obama dan Saya mempunyai nama panggilan yang sama -“Barry”.

Barack Obama dan Saya tinggal di kode pos yang sama di Chicago.

Kalau perbedaannya, wah banyak sekali 😀 (Ok, cukup untuk yang kurang serius…)

Kembali ke judul post ini: Kenapa Saya Support Barack Obama?

Karena hal-hal dibawah ini:

Barack Obama menolak uang dari spesial group (lihat link di sini). Uang dan politik adalah saudara kembar yang sulit dipisahkan. Ini sangat baru, mengingat sudah mengentalnya permainan donasi uang dengan penerimaan tender dari spesial group yang membawa presiden ke Gedung Putih. Oleh karena itu Barack Obama ingin membuat database bagi setiap pejabat di Washington DC dimana setiap transaksi yang dilakukan selama masa jabatan dapat diperiksa secara langsung oleh siapa saja melalui internet. Dengan kata lain setiap pejabat dapat di-Google. Bisa ketahuan darimana saja uang yang mereka terima (saat ini belum ada elektronik record yang dapat membeberkan “salam tempel” para pejabat di Amerika).

Memiliki latar belakang Internasional. Barack Obama pernah tinggal di Jakarta, Indonesia. Mungkin saat itu dia belum merasakan macetnya kota Jakarta seperti sekarang ini, namun pengalaman melihat dunia itu bulat dan bukan datar tampaknya akan membawa pencerahan bagi calon presiden yang ditunggu sepak terjangnya ini. Menghargai aspek dari pandangan dunia internasional dalam mengambil keputusan sebagai presiden adalah hal yang sudah lama tidak dialami negara adi kuasa ini. Perjalanan ke tempat kelahiran ayahnya di Kenya banyak memberikan dia kesempatan untuk melihat secara langsung wabah HIV Aids dan rencana apa yang dunia perlu lakukan untuk membantu negara-negara miskin yang sulit menolong diri mereka sendiri.

Barack Obama lahir dari dua kultur yang berbeda (hitam dan putih). Memiliki orang tua yang berasal dari kultur yang berbeda (ayah dari Kenya, Afrika dan ibu dari Kansas, Amerika) memiliki nilai tersendiri. Bagi Barack Obama, ini merupakan hal yang sangat berharga apalagi dalam misinya untuk mempersatukan bangsa Amerika yang penduduk minoritasnya yang tahun demi tahun memiliki komposisi yang mulai setara dengan yang lain. Sebagai contoh, 1 dari 5 orang di Amerika ada keturunan hispanik (Amerika Selatan). Saat ini, pandangan terhadap siapa yang memiliki Amerika sedang hangat-hangatnya diperdebatkan. Apakah Amerika hanya dimiliki orang kulit putih atau tidak? Nah, jika Barack Obama bisa menang sebagai presiden Amerika, maka ini dapat memberikan signal kepada masyarakat dunia kalau negara adi kuasa ini sebenarnya maju karena kontribusi dari banyak bangsa di dalamnya (imigran yang datang dan memberikan kontribusi kemajuan negara ini). Walaupun hal ini merupakan suatu kenyataan (jelas dirasakan bagi mereka yang tinggal disini), namun persepsi dari luar masih belum sepenuhnya memakumi.

Memiliki jiwa yang mau memenangkan rakyat kecil. Bagi mereka yang baru saja lulus dari Harvard Law School, hal pertama yang dapat dilakukan adalah minta pekerjaan di kantor hukum kelas kakap dan terkenal, seperti Latham Watkins (New York) atau Sidley Austin (Chicago) dengan penghasilan paling sedikit US$125,000 per tahun (tanpa pengalaman). Tapi Barack Obama berpikiran lain, dia justru ke bagian kota Chicago yang terkenal terbelakang karena kriminalitas yang menjamur dan angka kemiskinan yang merata. Dia bersedia hanya sebagai koordinator organisasi masyarakat dengan bayaran rendah US$40,000 per tahun (lengkap dengan gelar dari Harvard tersebut). Dia mempunyai misi dan visi untuk membantu mereka yang sering dikalahkan agar dapat memutarbalikan destini yang terpuruk dan berusaha untuk mulai berdiri sendiri.

Dibesarkan oleh pihak keluarga. Saat ibunya Barack Obama kembali ke Jakarta untuk menamatkan program doktornya “Barry” Obama dibesarkan oleh kedua kakek dan neneknya pada saat usia sekolah. Mau tidak mau dia berada di dalam lingkungan sosial yang kompleks. Figur seorang bapak yang absent saat dia kecil sedikit banyak memberikan dia suatu conviction yang membuka kesempatan bagi dirinya untuk tidak di kontrol oleh masa lalunya. Dia bertekat untuk selalu menjadikan kedua putrinya prioritas disamping keinginannya untuk menjadi pionir kemajuan bagi masyarakat Amerika pada umumnya. Dia mengerti apa yang dialami oleh keluarga yang ingin membesarkan anak-anaknya namun tidak memiliki dukungan baik secara finansial maupun support dari keluarga dekatnya.

Memiliki anak-anak yang masih kecil. Salah satu obat ampuh yang dapat mengingatkan seseorang agar tidak lupa daratan adalah melalui hubungannya dengan anak-anak mereka. Barack Obama sering bercerita bagaimana kedua putrinya selalu menganggap dia sebagai seseorang yang dijadikan obyek teman bermain, bukan sebagai seorang Senator ataupun calon presiden Amerika. Just another human being! Ini penting mengingat saat menjabat sebagai kepala negara nanti, seseorang dengan kehormatan setinggi itu bisa menjadi gila hormat. Diluar rumah, orang akan manggut-manggut, tapi di rumah dia hanya seorang ayah yang tugasnya mendengarkan kisah menarik mereka selama satu hari.

Memiliki istri yang berkarakter kuat and intelijen yang tinggi. Michelle Obama, adalah jebolan Harvard Law School dan Princeton University. Selama hidupnya dia harus bekerja dua kali lipat dari saingan teman-teman kelasnya yang lain karena sebagai orang hitam, kesempatan tidak selamanya datang di depan pintu rumahnya. Sebagai seorang kepala rumah tangga, seorang pria adalah “Kepala” namun sang istri adalah “Leher” dari badan yang mengarahkan kepala kemana dia bergerak. Kesuksesan seorang pria sedikit banyak merupakan kontribusi dari sang istri. Saya melihat beban berat tersebut dapat diimbangi dari kemampuan yang Michelle Obama miliki sebagai seorang individu yang berhasil. Sebagai wanita karir yang selalu suportif terhadap suaminya, walaupun sedikit gemas melihat suaminya yang “hanya” bekerja sebagai koordinator saja, dia akhirnya mampu melihat keindahan hati Barack yang saat ini mencalonkan diri sebagai koordinator berskala global.

Fresh -Belum terlalu lama di Washington DC (masih bersih). Barack Obama melihat perdamaian dunia sebagai suatu keharusan yang dapat dijangkau. Menurut beliau, hal itu adalah suatu keputusan dan bukan sesuatu yang telah ditakdirkan oleh pemimpin dunia yang merasa punya agenda tersembunyi. Masalah perdamaian di Timur Tengah merupakan tanggung jawab Amerika, baik bangsa ini sadari atau tidak. Barack Obama melihat tantangan ini sebagai suatu oportuniti dan bukan sebagai agen dari fraksi tertentu. Karena dia orang baru di arena ini dan tentunya memiliki pandangan baru yang lebih terbuka dia tidak ingin disetir oleh interest dari negara Israel semata-mata.

Percaya terhadap generasi penerus. Salah satu perusahaan yang pertama-tama dia kunjungi saat Barack Obama berkampanye dalam perebutan kursi Democratic Party adalah Google di Mountain View California. Disana dia disambut dengan meriah karena visinya yang mendukung generasi penerus yang memegang peranan akan masa depan di era globalisasi. Barack Obama tidak menutup kesempatan bagi generasi muda untuk dapat berpartisipasi secara aktif di bidang politik. Salah satu keinginannya untuk mendapatkan donor secara masal berhasil mengeruk jumlah yang jauh dibandingkan Hillary Clinton. Sebagian besar sumbangan uang yang diterimanya melalui internet memiliki jumlah penyumbang lebih dari 1 juta orang. Komitmen untuk membeberkan visinya terlihat dari kecanggihan website BarackObama.com yang didesign oleh salah satu dari Facebook founder yakni Chris Hughes.

Pernah jadi guru. Barack Obama pernah mengajar di University of Chicago Law School. Dengan pengalaman sebagai guru, saya berpendapat kalau beliau telah mendapat kesempatan untuk explorasi tentang apa itu hukum, baik melalui diskusi maupun melalui disertasi dengan komunitas edukasi, yakni murid dan guru. Ini penting mengingat seseorang yang menduduki jabatan paling tinggi dan hebat maka tidak jarang ada keinginan untuk memutarbalikkan definisi hukum untuk kepentingan golongan maupun pribadi. Sebagai guru seseorang dituntut untuk selalu menjadi contoh baik dalam hal kepandaian maupun pembawaan yang ujungnya dapat membantu siswa-siswi yang dipimpinnya.

Ultah Q

Ultah q thn ni lmyn seru..

lw pn g se-seru dlu d lz 2 SMP…